Dari Pedalaman Tambrauw, SMP Negeri Yembun Gelar UTS Berbasis Digital
Yembun, 28 September 2026 — SMP Negeri Yembun, Kabupaten Tambrauw, Papua Barat Daya, mulai melaksanakan Ujian Tengah Semester (UTS) Tahun Ajaran 2026/2027 pada Senin, 28 September 2026. Ujian dijadwalkan berlangsung selama lima hari, mulai Senin, 28 September hingga Jumat, 2 Oktober 2026.
Pada tahun ajaran 2026/2027, SMP Negeri Yembun memiliki 47 peserta didik yang mengikuti proses pembelajaran di sekolah. Pada hari pertama UTS, mata pelajaran yang diujikan adalah Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti serta Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PKN).
Secara umum, pelaksanaan ujian pada hari pertama berjalan dengan lancar. Para peserta didik mengikuti ujian dengan tertib dan berusaha menyelesaikan soal-soal yang diberikan melalui perangkat digital.
Mengawali Ujian dengan Keterbatasan Listrik dan Perangkat
Pelaksanaan UTS hari pertama sempat mengalami keterlambatan. Sekolah harus menunggu generator listrik milik sekolah dinyalakan sebelum perangkat komputer dan laptop dapat digunakan untuk pelaksanaan ujian.
Kondisi tersebut merupakan bagian dari realitas yang dihadapi SMP Negeri Yembun sebagai sekolah yang berada di wilayah pedalaman. Ketersediaan listrik dan sarana teknologi masih menjadi tantangan dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran berbasis digital.
Namun, keterbatasan tersebut tidak menjadi penghalang bagi sekolah untuk terus melakukan inovasi.
Setelah generator dinyalakan, pelaksanaan ujian dapat dilanjutkan dengan memanfaatkan jaringan internet Starlink yang tersedia di sekolah. Saat ini, koneksi internet yang digunakan memiliki kecepatan sekitar 20 Mbps dan menjadi salah satu fasilitas penting dalam mendukung kegiatan pembelajaran dan asesmen digital di SMP Negeri Yembun.
Memanfaatkan Perangkat dan Jaringan yang Tersedia
UTS tahun ini dilaksanakan secara online menggunakan kuis interaktif. Sekolah memanfaatkan Canva Code untuk menyediakan media ujian yang dapat diakses peserta didik melalui perangkat digital.

Dalam pelaksanaannya, SMP Negeri Yembun memiliki keterbatasan perangkat. Sekolah saat ini memiliki empat unit komputer yang dapat digunakan untuk mendukung kegiatan ujian.
Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, sekolah memanfaatkan laptop milik bapak dan ibu guru. Selain itu, sekolah juga melakukan pendataan terhadap peserta didik yang memiliki telepon seluler.
Peserta didik yang memiliki HP dapat menggunakan perangkat milik sendiri untuk mengikuti ujian. Dengan demikian, perangkat yang tersedia dapat dimanfaatkan secara bersama-sama dan peserta didik tetap memperoleh kesempatan untuk mengikuti ujian secara digital.
Kondisi jaringan internet juga membuat pelaksanaan ujian memiliki suasana yang khas. Jangkauan jaringan Wi-Fi di sekolah saat ini hanya sekitar 20 meter dari sumber jaringan, sehingga pada saat pelaksanaan ujian terlihat sejumlah peserta didik berada di teras kantor sekolah agar dapat memperoleh koneksi internet yang lebih stabil.
. 
Pemandangan tersebut menjadi gambaran nyata tentang bagaimana guru dan peserta didik SMP Negeri Yembun beradaptasi dengan keterbatasan yang ada. Di tengah keterbatasan jangkauan jaringan dan jumlah perangkat, proses ujian tetap dapat dilaksanakan dengan memanfaatkan fasilitas yang tersedia secara bersama-sama.
Pola ini menjadi salah satu bentuk kreativitas sekolah dalam memanfaatkan sumber daya yang tersedia. Digitalisasi pembelajaran tidak selalu harus menunggu tersedianya perangkat dan fasilitas dalam jumlah yang ideal. Yang terpenting adalah bagaimana sekolah, guru, dan peserta didik dapat bersama-sama mencari solusi agar teknologi tetap dapat dimanfaatkan untuk mendukung proses pendidikan.
Pergeseran Paradigma Pembelajaran di SMP Negeri Yembun
Pelaksanaan UTS secara digital juga menjadi bagian dari pergeseran paradigma pembelajaran yang sedang berlangsung di SMP Negeri Yembun.
Pembelajaran pada masa kini tidak lagi hanya mengandalkan buku cetak, papan tulis, dan lembar soal. Perkembangan teknologi membuka ruang bagi guru untuk menggunakan berbagai sumber belajar digital, media interaktif, internet, aplikasi pembelajaran, serta perangkat digital sebagai bagian dari proses pembelajaran dan asesmen.
Perubahan tersebut sejalan dengan arah kebijakan pemerintah dalam mendorong transformasi dan digitalisasi pembelajaran di satuan pendidikan. Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah terus mendorong pemanfaatan teknologi digital untuk mendukung pemerataan akses dan peningkatan mutu pendidikan, termasuk di wilayah 3T dan daerah pelosok Papua.
Bagi SMP Negeri Yembun, kebijakan tersebut bukan sekadar wacana. Sekolah berusaha menerapkannya sesuai dengan kondisi dan kemampuan yang dimiliki.
Dengan hanya memiliki empat komputer, memanfaatkan laptop guru, menggunakan HP peserta didik yang tersedia, serta mengandalkan koneksi Starlink dan listrik dari generator, sekolah berusaha menghadirkan pengalaman pembelajaran dan asesmen yang mulai beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
Teknologi sebagai Sarana, Bukan Pengganti Peran Guru
Pemanfaatan teknologi di SMP Negeri Yembun tidak dimaksudkan untuk menggantikan peran guru. Sebaliknya, teknologi digunakan sebagai alat bantu untuk memperkuat proses pembelajaran.
Guru tetap menjadi bagian penting dalam merancang pembelajaran, membimbing peserta didik, memberikan penguatan, serta memastikan teknologi digunakan sesuai dengan tujuan pendidikan.
Melalui penggunaan kuis interaktif, misalnya, guru dapat menyajikan soal dengan cara yang lebih menarik dan memberikan pengalaman yang berbeda kepada peserta didik. Peserta didik juga mulai dibiasakan untuk menggunakan perangkat digital secara bertanggung jawab, mengikuti petunjuk, mengelola waktu, dan menyelesaikan tugas secara mandiri.
Bagi guru sendiri, penggunaan Canva Code dan berbagai perangkat digital menjadi kesempatan untuk terus belajar dan mengembangkan kompetensi dalam merancang media pembelajaran dan asesmen yang interaktif.
Dari Yembun, Teknologi Menjadi Jembatan Pembelajaran
Pelaksanaan UTS berbasis digital di SMP Negeri Yembun merupakan sebuah langkah yang sederhana, tetapi memiliki arti penting bagi sekolah.
Di tengah kondisi geografis pedalaman, keterbatasan listrik, keterbatasan perangkat, jangkauan jaringan yang terbatas, dan berbagai tantangan lainnya, sekolah terus berusaha memberikan pengalaman belajar yang relevan dengan perkembangan zaman bagi 47 peserta didik SMP Negeri Yembun.
Kegiatan UTS ini bukan hanya menjadi sarana untuk mengukur hasil belajar peserta didik. Kegiatan ini juga menjadi pengalaman nyata dalam membangun literasi digital, kemandirian, tanggung jawab, dan kemampuan beradaptasi dengan teknologi.
Apa yang dilakukan SMP Negeri Yembun menunjukkan bahwa transformasi pendidikan dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana. Tidak harus menunggu semua fasilitas tersedia secara sempurna. Dengan semangat gotong royong, kreativitas, dan kemauan untuk terus belajar, sekolah dapat mulai melakukan perubahan sesuai dengan kondisi yang dimiliki.
Dari Yembun, dari pedalaman Tambrauw, teknologi menjadi jembatan untuk membuka akses pembelajaran yang lebih luas bagi anak-anak Papua.
SMP Negeri Yembun — Terus Belajar, Terus Berinovasi, Terus Bergerak.
Share to :